otakbuku.com — Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan hidup sehari-hari semakin terasa bagi banyak orang—baik pelajar, pekerja, maupun orangtua. Rutinitas padat, target tinggi, dan distraksi digital membuat keseimbangan mental lebih mudah terganggu. Seorang pakar mental health menjelaskan bahwa manusia cenderung membawa beban kecil yang menumpuk setiap hari tanpa disadari. Inilah yang kemudian memicu stres berkepanjangan, rasa cemas, bahkan kelelahan emosional.
Tekanan semacam ini tidak selalu berasal dari masalah besar. Justru hal kecil seperti tugas menumpuk, pesan digital yang tidak berhenti, kurang tidur, atau suasana kerja yang bising dapat memengaruhi kondisi mental. Karena itu, menurut pakar tersebut, memahami cara merespons tekanan adalah kunci untuk menjaga kesehatan mental jangka panjang. Ia menegaskan bahwa kemampuan mengelola stres bukanlah bakat bawaan, tetapi keterampilan yang bisa dilatih setiap hari.
Banyak orang sering berusaha bertahan dengan cara yang kurang tepat, seperti menunda pekerjaan atau mengalihkan pikiran dengan hiburan berlebihan. Padahal, respons seperti itu justru bisa membuat tekanan menumpuk lebih besar. Untuk itu, ia memberikan beberapa strategi praktis yang dapat diterapkan siapa pun dalam rutinitas harian.
Baca Juga: “StepRight Banjarmasin Dorong Warga Mulai Jalan Pagi Konsisten“
Pakar Mental Health Beri Teknik Napas untuk Redakan Tegangan Tubuh
Salah satu teknik paling mudah dan cepat untuk mengurangi stres adalah pernapasan diafragma. Menurut pakar mental health, teknik ini bekerja langsung pada sistem saraf untuk menurunkan ketegangan.
Berikut langkah sederhana yang ia rekomendasikan:
- Tarik napas perlahan selama 4 detik.
- Tahan selama 2 detik.
- Lalu hembuskan pelan selama 6 detik.
Lakukan selama 1–2 menit. Cara ini membantu mengurangi reaksi tubuh yang biasanya muncul saat stres, seperti jantung berdebar atau otot menegang. Praktik tersebut cocok dilakukan sebelum memulai pekerjaan, saat macet, atau menjelang tidur. Banyak orang menganggapnya sepele, padahal efeknya sangat signifikan terutama bagi mereka yang sering merasa panik.
Selain itu, teknik napas membantu seseorang lebih sadar terhadap keadaan tubuhnya. Kesadaran ini penting supaya pikiran tidak terbawa arus kecemasan yang tidak perlu.
Pakar Mental Health Bangun Rutinitas Pagi yang Lebih Manusiawi
Pakar mental health menilai bahwa 20 menit pertama setelah bangun tidur sangat menentukan stabilitas emosi sepanjang hari. Sayangnya, kebanyakan orang langsung membuka ponsel, membaca pesan, atau melihat media sosial. Padahal, aktivitas tersebut justru meningkatkan stres lebih cepat.
Ia menyarankan beberapa langkah kecil berikut:
- Memulai hari dengan minum air dan melakukan peregangan ringan.
- Menghindari ponsel minimal 15 menit setelah bangun.
- Menyiapkan daftar prioritas harian secara singkat.
- Mengatur ritme dengan musik lembut atau afirmasi positif.
Rutinitas pagi seperti ini tidak hanya membuat pikiran lebih tenang, tetapi juga membangun rasa kendali terhadap hari. Menurutnya, orang yang memulai hari secara sadar cenderung memiliki energi mental lebih stabil.
Pakar Mental Health Beri Batasi Stimulus Digital yang Berlebihan
Tekanan sehari-hari sering datang dari paparan informasi digital yang tak berhenti. Notifikasi, email kerja, dan media sosial membuat otak terus aktif. Pakar mental health menekankan strategi sederhana: “atur batas digital.”
Beberapa hal yang direkomendasikannya antara lain:
- Menonaktifkan notifikasi yang tidak penting.
- Menetapkan jam tertentu untuk membuka media sosial.
- Menerapkan mode fokus saat bekerja atau belajar.
- Menyisihkan 1 jam tanpa gawai sebelum tidur.
Strategi kecil ini membantu mengurangi “kebisingan mental” yang datang dari luar. Banyak kliennya merasa lebih jernih setelah membatasi paparan gadget secara bertahap.
Kenali Gejala Lelah Mental Sejak Dini
Menurut penjelasannya, tubuh sering memberi sinyal saat seseorang mulai kelelahan mental. Beberapa tanda yang umum meliputi sulit fokus, emosi mudah berubah, dan tidur tidak nyenyak. Mengabaikan tanda ini bisa membuat stres berkembang menjadi burnout.
Untuk mencegahnya, pakar tersebut menyarankan:
- Mengambil jeda 5 menit setiap 1–2 jam kerja.
- Berjalan sebentar untuk melemaskan tubuh.
- Mengurangi multitasking yang berlebihan.
- Berkomunikasi dengan orang dekat bila merasa kewalahan.
Ia menekankan bahwa mengenali batas diri bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari menjaga keseimbangan mental.
Refleksi Malam untuk Menutup Hari
Sebagai langkah terakhir, ia menyarankan meluangkan waktu 10 menit sebelum tidur untuk melakukan refleksi singkat. Tidak perlu panjang, cukup menjawab tiga pertanyaan inti:
- Apa yang berjalan baik hari ini?
- Apa yang membuat saya merasa tertekan?
- Apa satu hal kecil yang bisa saya perbaiki besok?
Metode sederhana ini membantu otak memproses pengalaman harian sekaligus menurunkan beban emosi yang tersisa. Refleksi malam dapat meningkatkan kualitas tidur serta membuat seseorang lebih siap menghadapi hari selanjutnya.
Baca Juga: “Mahasiswa Komunikasi UMS raih juara 2 Podcast Competition dengan pendekatan komedi“
