otakbuku.com – Public speaking kerap diartikan sebagai kemampuan berbicara di depan banyak orang dengan suara lantang dan penuh percaya diri. Namun bagi Najwa Shihab, esensi sejatinya jauh lebih dalam — menggerakkan hati pendengar.
Dalam salah satu sesi seminar komunikasi publik yang dihadirinya pekan ini, Najwa menekankan bahwa berbicara bukan sekadar soal retorika, tetapi juga tentang empati, kejujuran, dan kemampuan membangun koneksi emosional.
“Bicara di depan publik bukan hanya bagaimana menyusun kalimat, tetapi bagaimana kita menghadirkan keikhlasan dan ketulusan dalam pesan yang kita sampaikan,” ujar Najwa Shihab di hadapan ratusan peserta.
Pesan sederhana namun kuat itu menjadi pengingat bahwa kemampuan berbicara sejatinya berakar pada niat untuk menyampaikan sesuatu yang bermakna.
Baca Juga: “Manajemen Waktu Jadi Senjata Baru untuk Hidup Lebih Efektif“
Dari Jurnalisme ke Komunikasi Publik
Sebagai jurnalis dan pendiri Narasi, Najwa Shihab telah berbicara di depan publik selama lebih dari dua dekade. Pengalamannya di dunia jurnalistik membuatnya memahami bahwa kekuatan komunikasi bukan di volume suara, tetapi pada ketajaman makna dan relevansi pesan.
Menurut Najwa, setiap pembicara perlu memiliki tujuan jelas sebelum berbicara. Apakah untuk menginspirasi, mengedukasi, atau menggerakkan tindakan? Dari tujuan itulah gaya bicara terbentuk secara alami.
Ia juga menegaskan pentingnya storytelling dalam komunikasi publik. Cerita yang menyentuh, menurutnya, memiliki daya hidup yang jauh lebih lama dibandingkan data kering atau pernyataan formal.
“Orang tidak selalu ingat kata-kata kita, tapi mereka akan ingat perasaan yang kita timbulkan,” tuturnya.
Public Speaking dan Kekuatan Emosi
Najwa Shihab menyoroti bahwa salah satu kesalahan umum dalam public speaking adalah terlalu fokus pada “tampilan luar”: nada suara, intonasi, atau gesture tubuh. Padahal, aspek terpenting justru berasal dari dalam — emosi dan niat yang jujur.
Menurutnya, berbicara yang efektif selalu berpijak pada authenticity atau keaslian diri. Audiens dapat merasakan kejujuran seorang pembicara melalui cara ia bercerita, menatap, hingga jeda di antara kalimatnya.
“Orang bisa memaafkan kesalahan ucapan, tapi tidak akan percaya pada orang yang bicara tanpa ketulusan,” tegas Najwa.
Ia menyarankan agar pembicara melatih diri untuk hadir penuh (being present) saat berbicara. Artinya, benar-benar fokus pada pesan yang ingin disampaikan, bukan pada rasa takut atau kekhawatiran akan penilaian orang.
Teknik yang Bisa Dipelajari dari Najwa
Dikenal dengan gaya bicara tenang namun tegas, Najwa Shihab kerap dijadikan panutan dalam dunia public speaking. Ia menunjukkan bahwa komunikasi efektif tidak selalu harus keras, tetapi jelas dan bermakna.
Beberapa prinsip yang bisa diambil dari gaya komunikasinya:
- Gunakan jeda secara bijak. Diam sejenak bisa memberi ruang pada audiens untuk mencerna pesan.
- Bangun kontak mata. Pandangan yang fokus menunjukkan keterhubungan dan kepercayaan diri.
- Gunakan bahasa sederhana. Pesan yang mudah dipahami akan lebih cepat menyentuh audiens.
- Cerita lebih kuat dari data. Tambahkan kisah nyata agar pesan terasa hidup dan relevan.
- Berbicara dengan hati, bukan hanya kepala. Emosi yang tulus menciptakan resonansi dengan pendengar.
Najwa percaya, pembicara hebat bukan yang paling pintar berbicara, melainkan yang paling bisa didengar.
Public Speaking Sebagai Alat Perubahan Sosial
Bagi Najwa, komunikasi publik tak hanya bermanfaat di panggung formal, tetapi juga menjadi sarana perubahan sosial. Dalam banyak forum, ia menggunakan suaranya untuk membicarakan isu-isu penting — dari pendidikan, kesetaraan gender, hingga kebebasan berekspresi.
Public speaking, katanya, adalah cara untuk memperluas jangkauan gagasan dan memperjuangkan hal yang benar. “Kata-kata bisa menyalakan semangat atau memadamkan harapan. Karena itu, berbicaralah dengan tanggung jawab,” ucapnya.
Ia mengajak generasi muda untuk berani berbicara dengan cara yang cerdas dan beretika. Tidak perlu meniru orang lain, cukup menjadi diri sendiri dengan versi terbaiknya.
Makna di Balik Suara
Di akhir sesi, Najwa Shihab menegaskan bahwa kemampuan berbicara bukan bawaan lahir, tetapi keterampilan yang bisa dilatih.
Keberhasilan dalam public speaking datang dari pengalaman, kesalahan, dan kemauan untuk terus belajar memahami audiens.
Setiap kali seseorang berbicara, katanya, ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa kata-kata yang keluar membawa dampak baik.
“Public speaking bukan soal siapa yang paling keras, tapi siapa yang paling bisa menyentuh,” tutup Najwa.
Penutup: Menggerakkan Hati, Bukan Sekadar Bicara
Pesan Najwa Shihab menjadi refleksi penting di tengah budaya komunikasi yang serba cepat dan instan. Di era ketika semua orang bisa berbicara, hanya mereka yang berbicara dengan hati yang akan benar-benar didengar.
Public speaking, menurutnya, adalah jembatan antara pikiran dan perasaan.
Dan mereka yang mampu menggabungkan keduanya — logika dan empati — akan selalu punya tempat di hati pendengarnya.
Baca Juga: “Penembakan Pengacara di Tanah Abang Diduga Terkait Sengketa Lahan, 40 Saksi Diperiksa Polisi“











