otakbuku.com – Di tengah hiruk pikuk kota Makassar, ada gerakan tenang yang mulai menarik perhatian masyarakat urban — Komunitas InnerPeace Makassar.
Komunitas ini mengajak warga mengenal dan mempraktikkan mindfulness, seni menyadari momen kini secara penuh untuk mencapai ketenangan batin.
“Banyak orang sibuk mengejar produktivitas tapi lupa memelihara ketenangan diri,” ujar Nadia Rahma, pendiri InnerPeace Makassar.
Kegiatan komunitas ini rutin digelar setiap akhir pekan di ruang publik terbuka, seperti Pantai Losari atau taman kota. Peserta diajak melakukan meditasi singkat, latihan pernapasan, dan refleksi diri dengan panduan mentor mindfulness bersertifikat.
Baca Juga: “Coach Vision Palu Ajak Profesional Sadari Nilai Diri lewat Growth“
Komunitas InnerPeace Dari Hobi Pribadi Jadi Gerakan Kolektif
Awalnya, InnerPeace hanya dimulai dari kebiasaan pribadi Nadia yang mencari cara mengelola stres akibat pekerjaan.
Ia kemudian mengajak teman-teman terdekat untuk melakukan meditasi bersama di halaman rumahnya.
Tak disangka, kegiatan sederhana itu berkembang menjadi komunitas terbuka yang kini memiliki lebih dari 200 anggota aktif.
“Kami tidak hanya meditasi, tapi saling mendengarkan. Banyak orang ternyata hanya butuh ruang tenang dan didengarkan tanpa dihakimi,” tutur Nadia.
Melalui pendekatan ini, InnerPeace tumbuh menjadi ruang aman (safe space) bagi pekerja, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga yang ingin memperbaiki kesehatan mental dan menemukan keseimbangan diri.
Kegiatan Rutin Komunitas InnerPeace yang Menenangkan
Kegiatan komunitas ini dibagi dalam beberapa sesi tematik agar sesuai kebutuhan peserta.
Setiap sesi berdurasi 60–90 menit dengan pendekatan lembut dan praktis.
Jenis Aktivitas InnerPeace Makassar
- 🌅 Morning Mindfulness Walk: Jalan pagi sambil menyadari napas dan langkah.
- 🧘 Breathing & Stillness Class: Latihan pernapasan untuk meredakan stres.
- 🎨 Art of Calm Workshop: Ekspresi diri lewat melukis dan menulis jurnal.
- 🌙 Silent Night Session: Meditasi sunyi di tepi pantai saat senja.
“Kami ingin mindfulness terasa membumi, bukan hal eksklusif atau mahal,” kata Fikri Amir, fasilitator mindfulness yang ikut mengajar di komunitas ini.
Selain sesi luring, InnerPeace juga mengadakan kelas daring agar peserta dari luar Makassar dapat bergabung.
Dampak Positif bagi Anggota Komunitas
Menurut survei internal yang dilakukan InnerPeace, 8 dari 10 anggota melaporkan peningkatan kualitas tidur dan penurunan tingkat stres setelah rutin mengikuti latihan selama satu bulan.
Beberapa di antaranya bahkan mengaku lebih fokus saat bekerja dan merasa lebih sabar menghadapi masalah sehari-hari.
“Sebelumnya saya mudah marah dan cemas. Sekarang, saya belajar menenangkan diri dulu sebelum bereaksi,” ujar Rani (28), salah satu anggota komunitas.
InnerPeace juga bekerja sama dengan psikolog lokal Makassar untuk memberikan sesi edukasi kesehatan mental, membahas topik seperti “Self-Acceptance” dan “Mindful Relationships.”
Kegiatan ini membuat masyarakat lebih terbuka membicarakan isu kesehatan mental tanpa stigma.
Kolaborasi dengan Institusi dan Pemerintah
Kesuksesan gerakan ini membuat Dinas Kesehatan Kota Makassar tertarik menjadikannya bagian dari program “Makassar Sehat Jiwa.”
Pemerintah kota mendukung kegiatan komunitas dengan menyediakan ruang publik dan fasilitas kesehatan dasar selama sesi mindfulness.
“Kami ingin gerakan seperti InnerPeace menjadi contoh praktik pencegahan stres masyarakat kota,” ujar dr. Andi Zulkifli, perwakilan Dinkes Makassar.
Selain itu, InnerPeace juga menggandeng kampus-kampus seperti Universitas Hasanuddin dan Universitas Negeri Makassar untuk menyelenggarakan kelas mindfulness untuk mahasiswa.
Program ini bertujuan menekan tingkat kecemasan akademik dan meningkatkan keseimbangan emosional di kalangan pelajar.
Tantangan di Era Digital
Meski banyak mendapat sambutan positif, InnerPeace menghadapi tantangan besar: konsistensi peserta dan distraksi digital.
Di era media sosial yang serba cepat, tidak semua orang bisa berkomitmen untuk meluangkan waktu berdiam diri dan menyadari momen kini.
“Banyak yang datang seminggu, lalu hilang karena merasa ‘tidak sempat.’ Padahal mindfulness justru membantu kita mengelola waktu dengan bijak,” tutur Nadia.
Untuk mengatasi hal ini, tim komunitas mengembangkan aplikasi mini berbasis Telegram yang mengirimkan pengingat harian berupa afirmasi positif dan latihan pernapasan berdurasi satu menit.
Pendekatan sederhana ini membantu anggota tetap terhubung dengan praktik mindfulness di tengah kesibukan.
Refleksi: Menemukan Tenang di Tengah Bising
Komunitas InnerPeace Makassar menjadi bukti bahwa kedamaian tidak selalu harus dicari di tempat jauh.
Kadang, cukup berhenti sejenak, menarik napas, dan hadir di momen kini.
Lewat gerakan ini, warga kota diajak menyeimbangkan kecepatan hidup modern dengan kesadaran diri yang lembut.
“Mindfulness bukan pelarian dari dunia, tapi cara untuk hadir sepenuhnya di dalamnya,” tutup Nadia.
Dengan dukungan komunitas dan kolaborasi lintas sektor, InnerPeace Makassar berhasil mengubah cara masyarakat memandang ketenangan — bukan sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan dasar manusia modern.
Baca Juga: “Perguruan Tinggi yang Hanya Mendidik Otak Kalah dengan Mesin“











