otakbuku.com – Di tengah meningkatnya tekanan sosial dan tantangan karier pasca-pandemi, banyak anak muda di Pontianak merasa terjebak dalam pola pikir negatif.
Melihat fenomena itu, sekelompok relawan muda mendirikan GrowPositive Pontianak, komunitas yang berfokus pada pembentukan mental sehat dan mindset produktif bagi generasi muda.
“Kami ingin membantu anak muda belajar mengenali potensi diri dan keluar dari kebiasaan berpikir pesimis,” kata Rafi Hidayat, pendiri GrowPositive, saat ditemui di ruang komunitas mereka di Jalan Veteran, Pontianak.
Komunitas ini rutin menggelar kegiatan seperti coaching mingguan, diskusi reflektif, dan meditasi kelompok.
Tujuannya sederhana — membantu peserta membangun kebiasaan berpikir positif yang bisa diterapkan dalam kehidupan nyata, mulai dari belajar, bekerja, hingga bersosialisasi.
Baca Juga: “TimeMate Yogyakarta Luncurkan Aplikasi Pengatur Fokus Pelajar“
GrowPositive Pontianak Dorong Metode Mindshift yang Diterapkan
GrowPositive mengusung metode Mindshift Practice, yaitu kombinasi antara psikologi positif, refleksi diri, dan latihan mindfulness.
Metode ini terbagi menjadi tiga tahap utama yang disesuaikan dengan karakter generasi muda Pontianak:
- 🧠 Reframe: peserta diajak mengubah cara pandang terhadap masalah yang dihadapi.
- 💬 Reflect: mereka menulis jurnal harian untuk mengenali emosi dan pikiran dominan.
- 🌱 Rebuild: latihan afirmasi positif dan simulasi pengambilan keputusan realistis.
“Kami tidak mengajarkan teori motivasi semata, tapi melatih bagaimana cara berpikir bisa memengaruhi tindakan,” jelas Rafi.
Pendekatan ini terbukti efektif. Dalam survei internal komunitas, 82% peserta merasa lebih tenang dan percaya diri setelah mengikuti kelas selama satu bulan.
GrowPositive Pontianak Beri Latihan Positif di Ruang Nyaman
Setiap pertemuan GrowPositive selalu dimulai dengan sesi diam dua menit — momen sederhana yang dirancang agar peserta menenangkan diri sebelum berbagi pengalaman.
Setelah itu, fasilitator akan mengajak mereka berdiskusi santai tentang topik yang relevan, seperti “cara menghadapi kegagalan” atau “mengenali batas diri”.
“Kami ingin tempat ini terasa aman, bukan ruang ceramah. Semua orang boleh bercerita tanpa takut dihakimi,” ujar Diana Pramesi, salah satu fasilitator.
Kegiatan mereka juga dikemas menarik. Misalnya, lewat “Positive Challenge Week”, peserta diminta menulis satu hal baik yang mereka syukuri setiap hari selama tujuh hari.
Hasilnya kemudian dibagikan di media sosial komunitas untuk menginspirasi orang lain.
Kolaborasi dengan Psikolog dan Sekolah
GrowPositive tak berdiri sendiri. Mereka bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Barat serta sejumlah sekolah menengah di Pontianak.
Program yang mereka jalankan, “MindCare for Student”, memberikan pelatihan kepada guru BK dan OSIS tentang pencegahan burnout dan bullying.
“Sekolah adalah tempat paling strategis untuk menanamkan kebiasaan berpikir positif sejak remaja,” kata dr. Nurul Sari, psikolog rekanan GrowPositive.
Selain itu, beberapa kampus di Pontianak mulai mengundang tim GrowPositive sebagai pembicara di seminar motivasi dan kelas kepemimpinan mahasiswa.
Kisah Perubahan Nyata dari Anggota
Banyak peserta yang merasakan manfaat nyata setelah bergabung.
Salah satunya Hendra (23), mahasiswa ekonomi yang dulu kerap merasa tidak percaya diri berbicara di depan umum.
“Dulu saya takut gagal. Tapi setelah ikut kelas GrowPositive, saya belajar kalau kesalahan bukan akhir, melainkan bagian dari proses,” tuturnya.
Sekarang Hendra aktif menjadi mentor bagi peserta baru. Ia bahkan membangun proyek sosial kecil bernama “SpeakUp Youth”, yang membantu remaja melatih public speaking lewat kegiatan komunitas.
Dampak Sosial di Komunitas Lokal
GrowPositive juga meluncurkan program “MindFest”, festival pengembangan diri tahunan yang menggabungkan talkshow, musik akustik, dan sesi berbagi pengalaman pribadi.
Tahun lalu, acara ini berhasil menarik lebih dari 600 peserta muda dari berbagai kampus di Pontianak.
Kegiatan seperti MindFest menjadi wadah ekspresi positif yang mempererat hubungan antaranggota komunitas.
Bahkan, beberapa peserta mulai membuat podcast motivasi yang membahas topik seperti kesehatan mental, karier, dan rasa syukur.
“Kebahagiaan itu menular. Kami ingin menciptakan budaya baru: saling mendukung, bukan saling menghakimi,” tambah Diana.
Refleksi – Membangun Optimisme di Era Digital
Di era media sosial yang serba cepat, perbandingan sosial sering kali menimbulkan rasa tidak cukup atau rendah diri.
GrowPositive hadir untuk menyeimbangkan narasi itu — bahwa kebahagiaan bukan hasil pencapaian, tapi cara berpikir.
“Mindset positif itu bukan berarti menolak realitas, tapi belajar melihat peluang di balik tantangan,” ujar Rafi.
Komunitas ini berhasil membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari percakapan kecil, dari satu pikiran positif yang disebarkan setiap harinya.
Dengan semangat itu, GrowPositive Pontianak terus menginspirasi pemuda untuk bangkit, percaya diri, dan menciptakan kehidupan yang lebih bermakna — dimulai dari cara mereka memandang diri sendiri.
Baca Juga: “Puskesmas Ngasem Latih Tenaga Medis Kuasai Public Speaking“











