otakbuku.com — Sebuah komunitas pengembangan diri di Denpasar, Bali, baru-baru ini menyelenggarakan program pelatihan unik bertajuk “Energy Management for Professional Moms”. Program Bali Ajarkan ini dirancang khusus untuk para ibu yang bekerja, mengelola bisnis, atau menjalankan peran ganda—baik dalam profesi maupun keluarga. Pelatihan tersebut mendapat perhatian besar karena menawarkan pendekatan praktis untuk mengelola energi harian, menjaga kesehatan mental, dan meningkatkan produktivitas tanpa harus mengorbankan waktu keluarga.
Kegiatan ini digelar di sebuah pusat pelatihan di kawasan Renon dan diikuti lebih dari 60 peserta dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari pekerja kantoran, wirausaha, tenaga kesehatan, pendidik, hingga ibu rumah tangga yang sedang memulai usaha rumahan. Banyak peserta mengaku tertarik karena materi yang ditawarkan bukan hanya teori motivasi, melainkan teknik berbasis riset yang dapat diterapkan dalam rutinitas sehari-hari.
Baca Juga: “Jambi Terapkan Program Motivasi Pagi untuk Orang Profesional“
Bali Ajarkan Fokus pada Energi, Bukan Hanya Waktu
Menurut penyelenggara, kesalahan umum yang dilakukan banyak ibu profesional adalah fokus pada manajemen waktu tanpa memahami batasan energi yang dimiliki tubuh. Pelatih utama, Made Yulinda, menjelaskan bahwa energy management jauh lebih efektif dibanding sekadar time management.
“Waktu semua orang sama 24 jam, tapi energi setiap orang berbeda. Ibu bekerja sering merasa bersalah ketika tidak produktif, padahal masalah utamanya adalah energi mereka tidak terdistribusi dengan benar. Di sinilah pelatihan ini membantu,” ujar Yulinda dalam pembukaan sesi.
Peserta diajarkan bagaimana mengenali ritme energi tubuh—kapan mereka paling produktif, kapan tubuh butuh istirahat, serta kapan waktu terbaik untuk melakukan pekerjaan yang berat secara mental. Konsep ini diadopsi dari metode circadian rhythm mapping, yang kini semakin populer dalam dunia kerja modern.
Bali Ajarkan Teknik Praktis: Dari “Energy Audit” hingga “Micro-Rest”
Sesi inti pelatihan berfokus pada tiga teknik utama:
1. Energy Audit
Peserta diminta mencatat aktivitas selama 48 jam untuk mengidentifikasi energy leaks atau titik-titik yang menyebabkan energi terkuras tanpa disadari, seperti notifikasi yang berlebihan, pekerjaan rumah tangga yang tidak terjadwal, hingga kebiasaan multitasking yang tidak efektif.
Hasilnya, sebagian besar peserta menemukan bahwa mereka kehilangan energi bukan pada tugas besar, tetapi pada aktivitas kecil yang menumpuk sepanjang hari.
2. Micro-Rest 3–5 Menit
Berbeda dengan istirahat panjang, teknik micro-rest adalah rehat singkat yang dilakukan berkali-kali selama hari berlangsung. Latihan ini berupa duduk hening, napas teratur, peregangan leher, atau sekadar menutup mata selama satu menit penuh.
“Hal kecil ini, jika dilakukan 8–10 kali sehari, bisa meningkatkan fokus hingga 20 persen,” jelas Yulinda.
3. Penjadwalan Berbasis Energi
Peserta diajak mengidentifikasi kapan waktu mereka paling bertenaga. Misalnya, pagi hari untuk pekerjaan analitis, siang untuk tugas rutin, dan sore untuk aktivitas sosial atau keluarga. Dengan menyesuaikan jadwal pada ritme tubuh, peserta dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa kelelahan ekstrem.
Bali Ajarkan Keseimbangan Peran Ibu Bekerja Diangkat Sebagai Tema Utama
Pelatihan ini juga memberikan ruang diskusi mengenai realitas yang dihadapi ibu profesional: tekanan pekerjaan, tuntutan rumah tangga, dan kebutuhan pribadi yang sering terabaikan. Banyak peserta berbagi kisah bahwa mereka sering merasa “habis” bahkan sebelum hari berakhir.
Salah satu peserta, Nadia, seorang karyawan swasta, mengaku pelatihan ini membuka matanya tentang pentingnya batasan energi.
“Aku selalu kira burnout datang karena kerjaan terlalu banyak. Tapi ternyata karena aku tidak memberi jeda saat tubuh membutuhkannya. Setelah sesi ini, aku mulai paham kenapa malam hari rasanya selalu lelah meski kegiatan tidak banyak,” ujarnya.
Bali Ajarkan Latihan Mindfulness untuk Mengatur Napas dan Fokus
Selain teknik berbasis produktivitas, peserta juga diperkenalkan pada mindfulness breathing. Latihan ini dilakukan selama 20 menit bersama instruktur khusus. Teknik napas bertujuan menurunkan tingkat stres, memperbaiki fokus, dan menstabilkan emosi.
Latihan ini terbagi menjadi tiga tahap:
- Deep Breathing untuk merilekskan tubuh
- Box Breathing untuk menyeimbangkan ritme napas
- Mindful Presence untuk melatih kesadaran saat melakukan kegiatan apa pun
Instruktur menekankan pentingnya mengintegrasikan latihan ini saat bekerja, mengurus anak, atau bahkan saat memasak. “Tidak perlu menunggu ada waktu khusus. Mindfulness mudah dilakukan kapan saja,” jelasnya.
Penerapan di Rumah: Jadwal Energi Keluarga
Menariknya, di akhir sesi, peserta juga diajak membuat energy-based family schedule. Ini adalah metode sederhana untuk membagi tugas rumah tangga berdasarkan energi, bukan usia atau peran.
Contohnya:
- Anak yang energinya tinggi di pagi hari diberi tugas merapikan tempat tidur.
- Suami yang lebih fokus di malam hari dapat bertugas mempersiapkan perlengkapan untuk esok hari.
- Ibu dapat mengatur waktu kerja sesuai pola energi pribadinya.
Pendekatan ini dinilai membantu mengurangi beban mental (mental load) yang selama ini banyak dipikul ibu tanpa disadari.
Respons Positif dan Rencana Kelanjutan Program
Program ini mendapat respon sangat positif. Penyelenggara menyatakan akan membuka kelas lanjutan dan versi online untuk ibu di luar Bali. Banyak peserta berharap sesi ini dijadikan program bulanan agar praktik manajemen energi semakin membudaya.
Menurut data sementara, 84% peserta mengaku merasakan peningkatan kesadaran terhadap pola energi mereka hanya dalam dua hari setelah pelatihan.
Kesimpulan
Pelatihan teknik manajemen energi di Bali ini menjadi angin segar bagi ibu profesional yang selama ini terjebak rutinitas melelahkan. Dengan pendekatan praktis dan mudah diterapkan, peserta belajar bagaimana mengoptimalkan energi, meningkatkan produktivitas, dan menjaga kesehatan mental tanpa mengabaikan kehidupan keluarga.
Bali kembali menunjukkan bahwa inovasi pelatihan tidak selalu harus canggih—yang penting adalah relevan, membumi, dan menyentuh kebutuhan nyata masyarakat modern.
Baca Juga: “Akhirnya! 5.408 PPPK Paruh Waktu Kabupaten Sumedang Terima SK“
