otakbuku.com – Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, banyak karyawan di sektor manufaktur dan retail mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam dua tahun terakhir.
Namun, di balik situasi sulit itu, muncul harapan baru dari Program RiseUp, sebuah inisiatif sosial yang diluncurkan di Kota Semarang untuk membantu mantan karyawan menemukan kembali arah hidup dan karier mereka.
Program ini diinisiasi oleh Dinas Ketenagakerjaan Kota Semarang bersama komunitas wirausaha lokal dan lembaga pelatihan digital.
Tujuannya sederhana tapi kuat: membantu korban PHK agar tidak berhenti di tengah jalan, tapi bangkit dengan keterampilan baru.
“Kami ingin mengubah trauma PHK menjadi peluang pembaruan diri,” ujar Arif Rahman, koordinator Program RiseUp Semarang, dalam pembukaan kegiatan di Balai Latihan Kerja (BLK) Tambakaji.
Baca Juga: “Ubah Pola Pikir Negatif dengan Kebiasaan Sederhana Setiap Hari“
Pelatihan Keterampilan dan Mentalitas Tangguh
Program RiseUp tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga pada pemulihan mental dan motivasi peserta.
Pelatihan dibagi menjadi dua bagian utama: hard skill untuk keahlian kerja dan soft skill untuk kesiapan mental menghadapi perubahan karier.
Selama tiga bulan, peserta mengikuti kelas:
- 💻 Pelatihan Digital Marketing dan Desain Produk
Membekali peserta dengan keterampilan promosi online untuk membuka usaha sendiri. - 💰 Manajemen Keuangan dan Literasi Finansial
Mengajarkan cara mengelola uang pasca-PHK dan membuat perencanaan usaha. - 🧠 Sesi Motivasi dan Emotional Recovery
Dipandu psikolog profesional untuk membangun kembali kepercayaan diri dan mental tangguh.
“Kami belajar cara melihat masa depan, bukan menyesali masa lalu,” kata Rina Wulandari (34), peserta RiseUp yang sebelumnya bekerja di pabrik tekstil.
Hasilnya, dalam waktu kurang dari dua bulan, sebagian peserta sudah mulai membuka usaha kecil dari keterampilan yang mereka pelajari, seperti menjahit, membuat kue, hingga berjualan daring.
Kolaborasi Pemerintah dan Komunitas Lokal
Keberhasilan RiseUp Semarang tak lepas dari kolaborasi lintas sektor.
Selain pemerintah, program ini juga menggandeng komunitas pengusaha muda, kampus, dan platform digital yang menyediakan pelatihan serta mentor bisnis.
Dinas Ketenagakerjaan menyiapkan fasilitas ruang pelatihan dan bantuan modal awal, sementara komunitas UMKM lokal membantu peserta dalam pemasaran produk.
Beberapa universitas di Semarang bahkan mengirimkan mahasiswa magang sebagai mentor digital bagi peserta.
Kolaborasi ini membangun lingkungan belajar yang inklusif dan saling menguatkan.
Contoh Dukungan Kolaboratif dalam RiseUp:
- 🏢 Dinas Tenaga Kerja → fasilitas dan modul pelatihan.
- 🏫 Universitas lokal → mentor bisnis dan pendamping digital.
- 💼 Komunitas UMKM → akses pasar dan pameran produk.
- 🏦 Lembaga keuangan mikro → pembiayaan usaha awal peserta.
“Kunci program ini ada di gotong royong. Setiap pihak punya peran dalam memulihkan ekonomi warga,” jelas Arif Rahman.
Cerita Sukses dari Peserta: Dari Pegawai ke Pengusaha
Salah satu kisah inspiratif datang dari Sutrisno (42), mantan sopir logistik yang terkena PHK tahun lalu.
Awalnya ia merasa kehilangan arah dan sempat putus asa.
Namun setelah mengikuti pelatihan RiseUp Digital Entrepreneurship, ia belajar membuat konten promosi dan kini membuka usaha jasa cuci motor dengan sistem antar-jemput berbasis aplikasi sederhana.
“Saya tidak pernah membayangkan bisa punya bisnis sendiri. Sekarang malah sibuk melayani pelanggan,” katanya tersenyum.
Cerita lain datang dari Dewi Lestari (29), yang kini memproduksi lilin aromaterapi dari bahan alami dan sudah menjual produknya ke luar kota.
Ia mendapat bimbingan langsung dari mentor bisnis lokal dan bantuan promosi lewat marketplace.
Keberhasilan para peserta ini menjadi bukti bahwa pelatihan yang tepat mampu mengubah keterpurukan menjadi peluang baru.
Dampak Ekonomi dan Sosial di Tingkat Lokal
Hingga akhir tahun ini, Program RiseUp Semarang telah menjangkau lebih dari 700 peserta dari berbagai sektor pekerjaan.
Sekitar 60 persen di antaranya telah memulai usaha mikro dengan omzet stabil, sementara sisanya memilih kembali bekerja di sektor baru berkat keterampilan digital.
Selain manfaat ekonomi, program ini juga menciptakan dampak sosial positif.
Banyak peserta kini terlibat dalam komunitas sosial baru, mengadakan pelatihan mandiri bagi korban PHK lain, atau membantu pelaku usaha kecil di lingkungannya.
“Ketika seseorang kembali percaya diri, efeknya berlipat untuk keluarga dan komunitas,” ujar Dewi, salah satu mentor program.
Pemerintah Kota Semarang menilai RiseUp sebagai model pemberdayaan yang dapat direplikasi di kota lain.
Rencana perluasan ke wilayah Kendal dan Demak sedang disiapkan untuk tahun depan.
Refleksi: Bangkit Bersama, Bukan Sendiri
Program RiseUp Semarang menjadi contoh bahwa pemulihan ekonomi pasca-PHK tidak hanya soal pekerjaan baru, tetapi juga semangat baru.
Dengan dukungan lintas pihak, peserta tidak lagi merasa sendirian menghadapi masa sulit.
Mereka belajar bahwa kehilangan pekerjaan bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan baru menuju kemandirian.
RiseUp membuktikan bahwa dengan pelatihan yang relevan, dukungan komunitas, dan kepercayaan diri, setiap orang bisa bangkit.
“Kami tidak ingin jadi korban keadaan. Kami ingin jadi pembelajar seumur hidup,” kata Rina menutup sesi pelatihan terakhir dengan senyum bangga.
Dari ruang pelatihan sederhana di Semarang, semangat kebangkitan itu terus menyebar — mengubah kisah kehilangan menjadi cerita tentang harapan dan keberanian.
Baca Juga: “Partai Sentris Menang dalam Pemilu Belanda, Kalahkan Tokoh Anti-Islam“











